Konsekuensi Manajemen Sumber Daya Manusia Stratejik

Setelah sebelumya kita sudah membahas panjang lebar tentang manajemen sumber daya manusia startegik, sekarang kita akan membahas tentang konsekuensi penerapannya.

Konsekuensi Manajemen Sumber Daya Manusia Stratejik

Model teori MSDM

Alasan mendasar dalam manajemen SDM strategis adalah bahwa organisasi mengadopsi sebuah strategi yang mensyaratkan praktek SDM yang berbeda dengan yang disyaratkan organisasi yang mengadopsi strategi yang lain. Oleh karena itu penerapan manajemen SDM harus dijelaskan dalam strategi organisasi agar mampu menghasilkan kienrja yang tinggi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan strategi organisasi dengan penerapan praktek manajemen SDM. Sedangkan penerapan manajemen SDM dapat memberikan pengaruh yang relevan terhadap outcome organisasi seperti produktifitas dan profitabliitas (Delery & Doty, 1996). Beberapa perpektif manajemen SDM yang diterapkan adalah perspektif universalistic, kontinjensi, dan konfigurasional.


Universalistik

Praktek SDM perspektif universalistic diantaranya adalah program partisipasi dan pemberdayaan, incentive pay, employment security, promotion from within, pelatihan dan pengembangan ketrampilan, rotasi pekerjaan, quality cyrcle, dan total quality manajemen. Oleh karena itu praktek strategi manajemen SDM akan memberikan kontrobusi pada kinerja organisasional seperti adanya hubungan yang positif antara kinerja keuangan dengan penggunaan jalur karir internal, system pelatihan formal, hasil terhadap orientasi penilaian, kompensasi berdasarkan kinerja, keamanan kerja, protes karyawan, dan definisi berbagai pekerjaan secara luas. 

Kontinjensi

Praktek SDM perspektif kontinjensi menganggap bahwa dalam rangka peningkatan efektifitas, kebijakan praktek manajemen SDM organisasi harus konsisten dengan aspek lain dalam organisasi. Teori kontinjensi beberapa praktek manajemen SDM sesuai dengan posisi strategis yang berbeda dan berhubungan dengan kinerja perusahaan. Sehingga dalam perspektif ini diyakini bahwa hubungan antara praktek manajemen SDM dan kinerja keuangan akan sesuai dengan strategi organisasi. 

Konfigurasional

Perspektif konfigurasional telah menengembangkan alasan bahwa ada kesesuaian pendekatan konfigurasional yang muncul dalam teori organisasi dan literature manajemen strategi. Pendekatan ini diarahkan oleh prinsip-prinsip umum penelitian yang pada umumnya berdasarkan tipologi dari tipe-tipe ideal dan secara eksplisit mengadipsi system eguifinality. 

Perspektif konfigurasional ini dianggap sesuai dengan pendekatan manajemen SDM strategi jika pendekatan ini memberikan perhatian pada pola rencana penyebaran SDM dan ditujukan pada pencapaian target-target organisasi. 

Oleh karena itu system SDM harus dikembangkan untuk menghasilkan kesesuaian vertikal dan horizontal yaitu kesesuaian strategi perusahaan dan praktek SDM dan kesesuaian system SDM dengan karakteristik organisasi dan strategi. Sehingga diyakini bahwa semakin besar kesesuaian pengelolaan dan system tenaga kerja yang ideal dengan system pekerjaan organisasional, akan meningkatkan kinerja keuangan organisasi. Kesesuaian system ketenagakerjaan pada satu system tipe ketenagaakerjaan yang ideal yang sesuai dengan strategi organisasi akan memberikan hubungan yang positif dengan kinerja keuangan organisasi. Serta kesesuaian system ketenagakerjaan pada salah satu system ketenagakerjaan campuran yang sesuai dengan strategi organisasi akan berhubungan secara positif dengan kinerja keuangan organisasi.

Implikasi Manajerial dan teroritis

Kaitan praktek manajemen SDM dengan kinerja perusahaan banyak dijelaskan dengan pendekatan resource based view (RBV). Pendekatan ini memandang bahwa organisasi dapat mencapai keunggulan kompetitive melalui sumberdaya yang dimiliki. Sehingga penggunaan VRIO banyak diadopsi untuk menjelaskan keunggulan kompetitive sebuah perusahaan.

Namun pendekatan ini belum secara spesifik menjelaskan bagaimana sebuah organisasi dapat mengembangkan dan mendukung SDM yang dibutuhkan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Oleh karena itu Delery (1998) menegaskan pentingnya horizontal dan vertical fit dalam praktek manajemen SDM.

Kesesuaian horizontal dalam penelitian SDM adalah kesesuaian antara konsistensi internal dengan tambahan berbagai praktek manejemen SDM pada khususnya bagaimana praktek manajemen SDM dapat berjalan bersama sebagai sebuah system dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu tuntutan hubungan dan keseuaian saling mendukung antar berbagai praktek manajemen SDM harus menjelaskan praktek pencapaian tujuan organisasi. Setiap praktek manajemen SDM dituntut untuk memberikan hasil yang diinginkan dalam arti tiap praktek ini menunjukkan hasil yang tidak overlap dengan praktek lain dalam organisasi. Demikian juga praktek SDM harus memberikan pengaruh yang interaktif dalam mencapai efektifitas organisasi. Sehingga perlunya ada efek substitusi antar praktek manajemen SDM. Hal ini memungkinkan jika sebuah praktek manajemen SDM akan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan oleh praktek manajemen SDM yang lain. Sehingga konsep sinergi antar praktek manajemen SDM menjadi perhatian dalam mengembangkan manajemen SDM stretegis.

Praktek manajemen SDM strategis ini diyakini akan memberikan pengaruh yang signifikan. Diantaranya adalah terkati dengan level analisis yaitu mampu untuk menghubungkan analisa ditingkat perusahaan dan efektifitas praktek manajemen SDM yang menjadi bagian kegiatan perusahaan, mampu menjelaskan kaitan pembahasan manajemen SDM strategis secara filosifis, kebijakan dan praktis, penggunaan pengukuran system manajemen SDM, penggunaan variabel mediasi untuk menjelaskan hubungan antara praktek manajemen SDM dan kinerja perusahaan, menjelaskan berbagai tipe system manajemen SDM mampu memaksimalkan berbagai indicator kinerja (Delery, 1998).

Karakter dan Konsekuensi Strategi MSDM

Strategi MSDM memiliki tuntutan dan karakter terhadap berbagai dimensi seperti dimensi strategi internal, strategi orientasi, dan strategi jaringan eksternal. Secara internal strategi dalam pengelolaan SDM terdiri dari orientasi pemaknaan strategi dan orientasi hasil strategi. Sedangkan secara orientasi strategi MSDM mempertimbangkan orientasi masa lalu maupun masa depan. Sedangkan strategi jaringan eksternal meliputi hubungan dengan kompetitor, pelanggan dan institusi eksternal. 

Karakter dan Konsekuensi Strategi MSDM


Strategi MSDM merupakan aktivitas-aktivitas manajemen SDM yang memiliki nilai tambah terhadap organisasi seperti staffing, pengembangan dan kompensasi. Aktivitas-aktivitas ini memberikan dukungan dan penting terhadap kesejahteraan dan keberlanjutan perusahaan. Hal ini ditunjukkan misalnya dengan organisasi yang memberikan perhatian terhadap fleksibilitas penempatan karyawan dan berorientasi pada karyawan yang multitasking dalam mendukung keunggulan kompetitifnya, maka perusahaan tersebut akan focus pada kegiatan pelatihan dan pengembangan. Strategi manajemen SDM tidak hanya berfokus pada aktivitas saja, namun lebih pada berbagai kebijakan fungsi manajemen SDM seperti rangkaian fungsi rekrutmen, seleksi, kompensasi, pelatihan dan pengembangan karyawan.

Perubahan dan Strategi MSDM

Tsai & Yen (2008) menekankan bahwa dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnis dalam lingkungan yang berubah, perusahaan harus secara konsisten menggunakan berbagai jenis dan tingkatan strategi. Sehingga konsep keunggulan kompetitif yang berkelanjutan sebagai dasar kinerja perusahaan harus digunakan sebagai prinsip utama dalam pengembangan strategi. Konsep kapabilitas dinamis dikembangkan dalam kosep RBV dimanfaatkan untuk mengintegrasikan, membangun, dan mengkonfigurasikan kompetensi internal dan eksternal dalam menghadapi lingkungan yang berubah dengan cepat. Kemampuan dinamis adalah proses dalam perusahaan untuk mengintegrasikan, dan memanfaatkan sumber daya untuk mencocokkan dan menciptakan perubahan pasar. Proses ini adalah aktivitas rutinitas organisasional dan strategis. Kemampuan ini adalah kemampuan yang berhubungan dengan intellectual capital yang digunakan untuk memanfaatkan sumberdaya eksternal. Kemampuan strategi bisnis yang dinamis adalah mekanisme kritis antara aktivitas bisnis dan kinerja yang akan menghasilkan keuntungan untuk para karyawan, shareholder, dan stakeholder lainnya.

Perubahan dan Strategi Manajemen Sumber Daya Manusia


Tuntutan perubahan organisasi dari tekanan internal dan eksternal menuntut perusahaan mempersiapkan berbagai strategi yang sesuai dengan kapasitas dan orientasi jangka panjang bisnisnya. Oleh karena itu berbagai strategi seperti downsizing dipergunakan untuk mengintegrasikan semua potensi dan kapasitas perusahaan. Dinamika lingkungan bisnis ini menuntut kapasitas perusahaan mampu mengikuti tuntutan stakeholder dan shareholder bisnisnya. Dengan integrasi ini tuntutan kinerja dan pengembangan bisnis diharapkan akan memunculkan keunggulan bersaing perusahaan. Oleh karena itu inovasi strategi perusahaan dalam mengintegrasikan kemampuan perusahaan berbasis SDM harus terus menerus memperhatikan perkembangan persaingan pasar dan potensi pengembangan kapasitas SDM.


Buat lebih berguna, kongsi:
close