Makalah Administrasi Islam



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.
            Setiap orang mempunyai tujuan hidup. Tujuan hidup setiap orang berbeda-beda. Karena mereka mempunyai pemikiran yang berbeda, dan juga keinginan yang berbeda dalam kehidupannya. Ada yang sangat berambisi, biasa saja dan ada pula yang hanya menjalani apa yang sudah di takdirkan oleh Sang Pencipta.
Tidak gampang menjalani tujuan hidup yang sudah kita rencanakan, lantaran terkadang planning yang sudah kita ingin jalankan terbentur oleh kenyataan yang ada. Karena kita tidak mempunyai kuasa apapapun untuk sanggup memilih apakah tujuan yang sudah kita tentukan itu sanggup berjalan dengan baik. Karena ada Sang Maha Pencipta yang memilih dan mempunyai kuasa atas segala hal yang ada di dunia ini. Jika Allah SWT sudah memilih tidak maka kita tidak akan sanggup merubahnya.
            Oleh alasannya yaitu itu kita hanya sanggup berdoa supaya tujuan yang sudah kita rancang dan kita harapkan dalam hidup ini sanggup berjalan sesuai dengan rencana.
Perencanaan tujuan hidup yang baik tidak mudah. Karena kita harus bisa konsisten dengan apa yang sudah kita rencanakan. Dan kita sudah memikirkan baik dan buruknya terlebih dahulu. Merencanakan tujuan hidup yang baik dengan cara administrasi diri.
            Dalam hal membangkitkan semangat untuk kehidupan dalam aspek apapun dikenal dengan sebutan motivasi. Motivasi sangat dibutuhkan guna membangkitkan semangat dan lebih berpengaruh dalam menghadapi masa depan serta bisa mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki. Dalam perusahaan atau secara umum dalam suatu organisasi seorang manajer harus sanggup memperlihatkan motivasi kepada para karyawan atau pegawainya guna keefektifan kerja dan produktifitas kerja. Dalam hal ini, seorang manajer sanggup melaksanakan beberapa teknik motivasi yang nantinya akan menjadi pembahasan dalam makalah ini dan akan diuraikan untuk pendalaman dalam teknik-teknik motivasi administrasi diri.
1.2. Maksud dan Tujuan.
            Adapun maksud dari pembuatan makalah ini diantaranya :
  1. Sebagai kiprah kelompok dalam mata kuliah yang diemban yaitu Manajemen Islam.
  2. Menambah pengetahuan dan wawasan akan teknik-teknik motivasi dalam administrasi diri guna perkembangan cakrawala menuju wawasan wiatamandala.
  3. Dapat lebih gampang mengaplikasikan teknik-teknik motivasi administrasi diri dalam kehidupan sehari-hari dari lapisan dan kedudukan apapun.
1.3. Rumusan Masalah.
            Rumusan problem dalam pembahasan kali ini yaitu :
  1. Apakah motivasi administrasi diri ?
  2. Apa saja teknik-teknik dalam motivasi administrasi diri ?
  3. Apa yang dimaksud kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial atau rasa memiliki, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri ?
1.4. Batasan Masalah.
            Dalam pembahasan kali ini supaya pembahasan tidak melebar atau menjauh dari bahan yang diuraikan, maka pemakalah memperlihatkan batasan problem hanya pada teknik-teknik motivasi dalam administrasi diri yaitu kebutuhan-kebutuhan yang telah disebutkan pada rumusan problem di atas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Motivasi.
            Abraham Sperling dalam Mangkunegara, mengidentifikasikan motivasi sebagai berikut, “motivasi yaitu kecendrungan untuk beraktifitas, dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuain diri”. Sedangkan Fillmore H. Standford menjelaskan pengertian motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan insan ke arah suatu tujuan tertetu.[1]
            Berdasarkan pendapat tersebut, sanggup disimpulkn bahwa motivasi yaitu kondisi yang sanggup menggerakkan pegawai supaya bisa mencapai tujuan sesuai dengan kebutuhan atau dorongan (motif).[2] Motivasi merupakan daya dorong untuk bergerak atau suat keadaan yang menggerakkan atau mengarahkan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu. Keberhasilan dari hasil motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh sumber daya yang dimiliki. Pencapaian tujuan motivasi kerja sebagaimana diharapkan menghasilkan efektivitas, produktivitas dan hasil kerja yang efisien, baik bagi diri individu yang bersangkutan maupun bagi organisasi.[3] Manajemen diri yaitu orang yang bisa untuk mengurus dirinya sendiri. Sedangkan kemampuan untuk mengurus diri sendiri itu dilihat dari kemampuan untuk mengurus wilayah diri yang paling bermasalah. Dan yang paling biasa bermasalah dalam diri itu yaitu hati. Oleh lantaran itu kita harus bisa menata hati dan potensi yang ada di dalam diri diharapkan kecerdasan.
2.2. Teknik-teknik Motivasi.
            Teknik-teknik motivasi yang dikemukakan diantaranya terdiri atas lima konsep yaitu :
  1. Kebutuhan Fisiologis.
            Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan mirip makan, minum, dukungan fisik, bernafas dan seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Dalam kekerabatan dengan kebutuhan ini, manajer harus memperlihatkan honor yang layak kepada pegawai.
  1. Kebutuhan Rasa Aman.
            Kebutuhan rasa kondusif yaitu kebutuhan dukungan dari ancaman, ancaman dan lingkungan kerja. Dalam kekerabatan dengan kebutuhan ini, manajer harus memperlihatkan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, perumahan dan dana pensiun.
  1. Kebutuhan Sosial atau Rasa Memiliki.
            Kebutuhan sosial atau rasa mempunyai yaitu kebutuhan untuk diterima dalam kelompok unit kerja, berafiliasi, berinteraksi serta rasa mengasihi dan dicintai. Dalam kekerabatan dengan kebutuhan ini, manajer harus mendapatkan eksistensi atau eksistensi pegawai sebagai anggota kelompok kerja, melaksanakan interaksi kerja yang baik dan kekerabatan kerja yang harmonis.
  1. Kebutuhan Harga Diri.
            Kebutuhan harga diri yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain. Dalam kekerabatan dengan kebutuhan ini, manajer dilarang adikara dalam memperlakukan pegawai lantaran mereka perlu dihormati dan diberi penghargaan terhadap prestasi kerjanya.
  1. Kebutuhan Aktualisasi Diri.
            Kebutuhan aktalisasi diri yaitu kebutuhan untuk menyebarkan diri dan potensi, mengemukakan ide-ide, memperlihatkan penilaian, kritik dan berprestasi. Dalam hubungannya dengan kebutuhan ini, manajer harus memperlihatkan kesempatan kepada pegawai bawahan supaya mereka mengaktualisasikan diri secara baik dan masuk akal di dalam organisasi.[4]
            Berkenaan dengan teknik-teknik motivasi, berkaitan erat dengan teori-teori motivasi. Karena teknik juga merupakan teori atau bisa dikatakan teknik yaitu bahasa lain dari teori. Berikut beberapa teori perihal motivasi :
  1. Teori Heirarki Kebutuhan Maslow.
Teori ini pada pada dasarnya sama dengan lima teknik-teknik motivasi sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Maslow beropini bahwa prilaku insan pertama-tama dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis. Artinya, anda membutuhkan air, masakan dan udara. Ketiganya disebut kebutuhan biologis dasar. Memberi karyawan honor yang memadai dan masa istirahat selama bekerja membuat mereka bisa memenuhi kebutuhan psikologis dasar ini. Program-program kesejahteraan juga membantu para karyawan ini memenuhi kebutuhannya.[5]
  1. Teori Mc Gregor.
Teori ini sering disebut teori X dan Y Mc Gregor. Orientasi-orientasi yang berbeda-beda dari para teoritas administrasi tradisional yaitu jawaban dari asumsi-asumsi yang berbeda-beda perihal kodrat manusia. Douglas Mc Gregor mengemukakan dua pandangan yang saling bertentangan perihal kodrat manusia, yaitu beliau sebutkan sebagai teori X dan teori Y, ancangan manusia.[6] Bagi karyawan pada tingkat rendah suatu organisasi yang mungkin terlibat dalam pekerjaan produksi massal secara rutin, peluang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ego dalam pekerjaan yaitu terbatas.
  1. Teori Frederick Herzberg.
Teori ini mengemukakan faktor-faktor motivator. Lima dari faktor yang oleh Herzberg disebut sebagai motivator-motivator yang mendatangkan kepuasan dalam pekerjaan yaitu :
a.       Keberhasilan pelaksanaan.
b.      Pengakuan.
c.       Pekerjaan itu sendiri.
d.      Tanggung jawab.
e.       Pengembangan.
Berdasarkan hasil penelitian, Herzberg menyebarkan gagasan bahwa ada dua rangkaian kondisi yang mensugesti seseorang di dalam pekerjaannya. Rangkaian kondisi pertama disebut faktor motivator, sedang rangkaian kondisi kedua diberi nama faktor iklim baik.[7]
  1. Teori Penerapan atau Valensi.
Suatu ancangan terakhir kepada pemahaman dan penerapan atau valensi. Ia berupaya mengatasi teori bahwa semua karyawan yaitu sama dan satu cara terbaik untuk memotivasi karyawan. Ancangan pengharapan berupaya menjelaskan perbedaan-perbedaan antara individu-individu dan antara siatuasi yang satu dengan situasi yang lain. Ancangan ini didasarkan pada empat perkiraan mengenai berlangsungnya tingkah laris dalam banyak sekali organisasi. Asumsi-asumsi tersebut yaitu :
a.       Prilaku ditentukan oleh suatu kombinasi dari dan dalam lingkungan.
b.      Para individu mengambil keputusan-keputusan yang disengaja perihal prilakunya dalam organisasi.
c.       Individu-individu yang berbeda-beda mempunyai kebutuhan, keinginan dan tujuan dari tipe-tipe yang berbeda-beda.
d.      Para individu mengambil keputusan diantara rencana-rencana alternatif perihal prilaku yang didasarkan pada pengharapan perihal sejauh mana suatu tingkah laris tertentu akan membawa kepada suatu hasil yang dingini.[8]
2.3. Motivasi Dalam Ajaran Islam.
            Dalam anutan Islam motivasi itu justru digerakkan oleh Tuhan yang mempunyai Dzat Esa tidak ada yang menyerupainya, Dia tidak berkehendak kepada siapapun, Dia murni independen dan Dia pencipta segala sesuatu. Allah SWT mengajarkan supaya insan itu bekerja melaksanakan sesuatu lantaran Allah dan lantaran mengharap Keridhaan-Nya. Bukan untuk makan, bukan untuk jabatan, bukan selh esteem, bukan riya dan lain sebagainya. Allah merupakan sumber penggagas sehingga seseorang yang menjadikan Allah sebagai asal motivasi maka ia tidak akan berhenti bekerja seandainya ia terlambat honor atau pada ketika situasi sangat kritis. Dan beliau tidak akan membantah kendatipun beliau dipindahkan atau dimutilasi. Dia menganggap bahwa beliau bekerja lantaran Allah. Imbalannya bukan dari insan yang pelit dari dari Allah Yang Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Adil dan Maha Penyayang. Allah SWT yang akan mengadili semua insan dihadapan-Nya di alam abadi dan mendapatkan jawaban yang setimpal dengan setiap acara yang dilakukannya.
            Jika insan atau karyawan mempunyai motivasi mirip ini maka tentu tidak akan ada perebutan jabatan, stres, putus asa dan imbas negatif lainnya. Sayangnya kebulatan insan terhadap esensi agama tidak dimanfaatkan oleh administrasi atau perusahaan. Padahal sanggup mengurangi biaya, meningkatkan produktifitas dan membuat keharmonisan dalam perusahaan.
            Bayangkan kalau kita sanggup mendidik karyawan ihsan yang kualitasnya :
“Akan berbuat sebaik-baiknya seperti ia dilihat oleh Allah SWT sehingga ia tidak akan berani melaksanakan yang bertentangan dengan ketentuan Allah SWT”.
            Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
Artinya :
“Katakanlah : sebenarnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-An’am : 162).[9]
            Karyawan mirip ini tentu akan sanggup mengurangi beban biaya macam-macam mirip biaya pengawasan, biaya meredam keresahan dan lain sebagainya. Namun dalam administrasi mirip ini maka tidak saja karyawan yang harus dituntut mirip itu tetapi juga manajer, direksi dan pemilik dituntut melaksanakan hal yang sama sehingga administrasi perusahaan harus transparan, adil dan jujur serta bebas dari segala penipuan.
            Yusof Ismail (1991 : 169) mengemukakan dalam bukunya bahwa : “motivasi memainkan peranan penting dalam gelagat (prilaku) individu dalam rumah tangga, organisasi dakwah, organisasi pekerjaan dan organisasi kenegaraan.[10] Di dalam Islam aqidah tauhid yang betul dan bukan tauhid mandul melahirkan motivasi primer (utama) yang dinamik. Pendapat ini senada dengan pendapat di atas yang menyatakan motivasi mestinya digerakkan oleh keyakinan pada kepatuhan kepada Tuhan. Tauhid yaitu prinsip mengesakan Tuhan yang artinya hanya mematuhi Allah SWT sebagai Tuhan dan tidak ada Tuhan selain Dia.
2.4. Analisa Pemakalah.
            Motivasi merupakan energi internal yang bersemayam di dalam hati insan insan yang akan berkobar menjadi penyemangat dan penambah kekuatan. Hasil dari motivasi yang baik akan terlihat dari banyak sekali konsep dan bentuk. Bisa saja semakin bertambah keahliannya lantaran dorongan yang membuat ia terus meningkatkan kemampuan baik dari latihan maupun mempelajari pengalaman, bisa juga mirip ketegaran dan bisa menganmbil perilaku dalam mengatasi problem dan problema yang hadir, bisa menyusun rancangan yang kebih baik untuk hari depan dari pengalaman yang telah dilalui dan lain sebagainya. Dalam perspektif pemakalah, motivasi yang ada dalam setiap individu mempunyai perbedaan dalam segi takarannya. Artinya, motivasi ada dalam diri insan akan tetapi ada yang berpengaruh dan ada yang lemah. Pemakalah menafsirkan bahwa motivasi itu akan sangat berpengaruh apabila faktor pendorong motivasi itu yaitu yang efektif yang artinya teknik memotivasi atau cara membangkitkan semangat (gairah) itu dilakukan dengan tepat. Contoh : “seorang karyawan yang hidup sederhana berusaha keras untuk meningkatkan taraf perekonomiannya, dorongan yang berpengaruh hadir dalam dirinya ketika mendengar kalimat yang keluar dari perkataan orang tuanya (“ibu hidup susah dengan ayah, ibu menyekolahkan kau supaya kau bisa hidup lebih sejahtera dari ibu dan ayah”). Kalimat itu menjadi cambuk pembangkit bagi si karyawan dengan ibunya yang berposisi sebagai motivator”.
            Adanya pemotivasi yang sempurna akan mengakibatkan hasil yang berbeda daripada pemotivasi yang kurang pas. Seperti seseorang yang dimotivasi oleh orang tuanya dibanding menerima motivasi dari teman-temannya. Akan jauh lebih berpengaruh dorongan motivasi dari orang terdekat lantaran disinilah letak naluriah seorang insan sebagai makhluk yang mempunyai perasaan.
            Pemakalah menambahkan perkiraan mengenai motivasi, bahwa motivasi hadir dari faktor internal (dalam diri insan itu sendiri) dan faktor eksternal (hal di luar diri manusia). Akan tetapi keduanya mempunyai kaitan dan kekerabatan yang sangat erat. Dorongan dari dalam diri mirip seseorang yang pernah terjatuh (mengalami kegagalan) kemudian kembali bangun dengan pematangan pikiran yang hadir dari dalam dirinya jawaban bayangan masa kelam ketika ia gagal dan itu menjadi landasan motivator baginya. Sedangkan teladan hal-hal yang hadir dari luar yaitu mirip ketika seseorang melihat kejayaan dan keberhasilan orang lain yang membuat ia merasa kalau ia juga bisa mirip mereka dan karenanya ia semakin bersemangat untuk menjalani kehidupan dengan impian akan lebih baik dalan kesejahteraan.
            Selanjutnya motivasi dalam konsep administrasi diri akan berjalan baik apabila baik pula faktor-faktor pendorong motivasi tersebut. Maksudnya, mirip pribadi yang sudah terdidik untuk selalu berfikir positif dan ia telah terpaut dengan dogmatika nilai-nilai insan atau penghambaan. Hal ini akan sanggup membuat ia lebih trampil dalam memanajemen dirinya dari banyak sekali segi disetiap aktifitasnya.
            Motivasi dalam perspektif Islam sangat terlihat terperinci dan cukup mayoritas dalam prinsip individualisme. Al-Qur’an memperlihatkan citra lengkap dan menjadi motivator hebat bagi umat Islam. Termaktub indah di dalam Al-Qur’an bahwa setiap insan ini yaitu ciptaan Allah SWT dan akan mendapatkan kebahagiaan tak terkira apabila ia taat hanya kepada Allah. Janji Allah yang akan menjamin kebahagiaan kepada setiap insan yang tunduk patuh kepada-Nya menjadi salah satu motivasi besar bagi setiap pribadi umat Islam. Bentuk lain dari motivasi yang ada dalam Al-Qur’an yaitu mirip ancaman eksekusi dan siksaan bagi insan yang melanggar hukum Allah SWT. Ancaman siksa ini menjadi salah satu motivasi bagi insan untuk lebih bisa menjaga dan memanajemen dirinya supaya tidak celaka dikemudian hari. Umat Islam yang baik akan selalu bisa untuk memotivasi dirinya apabila dihadang dengan ujian, cobaan ataupun masalah. Motivasi itu hadir dari Firman Allah SWT pada surah Al-Baqarah ayat 286 yang artinya :
“Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali berdasarkan kadar kemampuannya” (Q.S. Al-Baqarah: 286)[11]
            Kita akan bisa menjauhkan diri dari rasa putus asa dan selalu semangat dalam menghadapi problem lantaran sebuah keyakinan bahwa problem itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Yang kemudian dilanjutkan dengan perilaku diri dalam menjalaninya. Keyakinan bahwa problem yang tiba yaitu ujian dari Allah dan sebagai penguji untuk meningkatkan derajar di sisi-Nya. Hal ini juga akan menjadi motivasi tersendiri bagi setiap pribadi dalam berhubungan dengan Allah SWT.






BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
            Setiap orang mempunyai tujuan hidup. Tujuan hidup setiap orang berbeda-beda. Karena mereka mempunyai pemikiran yang berbeda, dan juga keinginan yang berbeda dalam kehidupannya. Ada yang sangat berambisi, biasa saja dan ada pula yang hanya menjalani apa yang sudah di takdirkan oleh Sang Pencipta.
Motivasi merupakan daya dorong untuk bergerak atau suat keadaan yang menggerakkan atau mengarahkan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu.
            Manajemen diri yaitu orang yang bisa untuk mengurus dirinya sendiri. Sedangkan kemampuan untuk mengurus diri sendiri itu dilihat dari kemampuan untuk mengurus wilayah diri yang paling bermasalah. Dan yang paling biasa bermasalah dalam diri itu yaitu hati.
3.2. Pesan dan Saran.
            Dalam kesempatan ini, pemakalah ingin memperlihatkan pesan dan saran untuk pemakalah sendiri khususnya dan untuk pembaca sekalian umumnya, diantaranya :
  1. Berusahalah mengahdirkan motivasi dalam konteks yang positif dan jadilah sebagai pemotivasi (motivator) yang baik dan sempurna dalam bertindak.
  2. Tempatkanlah Allah SWT sebagai motivator utama, alasannya yaitu kehidupan ini dari-Nya dan kepada-Nya semua akan kembali.


                [1]Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung: Rosda Karya, 2004. hlm. 93.
                [2]Undang Ahmad Kamaludin dan Muhammad Alfan, Etika Manajemen Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2010, hlm.125.
                [3]Prof. DR. H. Abdurrahmat Fathoni, M.Si, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm. 81.
                [4]Mangkunegara, op.cit, hlm. 98.
                [5]Patricia Buhler, Management Skills, Jakarta: Prenada Media, 2004, hlm. 193.
                [6]Marihot Amh Manullang, Manajemen Personalia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006, hlm. 170.
                [7]Ibid, hlm. 177-178.
[8]Ibid, hlm. 186-187.
                [9]Kementrian Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah, Bandung: CV. Insan Kamil, hlm. 150.
                [10]Sofyan Syafri Harahap, Manajemen Kontemporer, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm.  278.
                [11]Kementrian Agama RI, op.cit, hlm. 49.
Buat lebih berguna, kongsi:
close