Strategi Bekerja Pada Ruang Terbatas Dan Bekerja Pada Ketinggian



DAFTAR ISI
SAMPUL......................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
1.1  Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3  Tujuan................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................
2.1 Bekerja pada Ruang Terbatas..................................................................... 3
2.1.1 Pengertian Bekerja pada Ruang Terbatas......................................... 3
2.1.2 Bahaya Bekerja di Ruang Terbatas.................................................. 4
2.1.3 Jenis Pekerjaan di Ruang Terbatas................................................... 7
2.1.4 Ijin Bekerja pada uang Terbatas....................................................... 7
2.1.5 Persyaratan Kesehatan Bekerja di Ruang Terbatas.......................... 9
2.16 Persyaratan Wajib Sebelum Memasuki Ruang Terbatas.................... 10
2.2 Bekerja pada Ketinggian............................................................................ 13
2.2.1 Pengertian Bekerja pada Ketinggian................................................ 13
2.2.2 Bahaya Bekerja pada Ketinggian..................................................... 15
2.2.3 Jenis Pekerjaan pada Ketinggian...................................................... 16
2.2.4 Ijin Bekerja pada Ketinggian............................................................ 17
2.2.5 Perencanaan Bekerja di Ketinggian.................................................. 18
BAB III PENUTUP.........................................................................................
3.1 Simpulan.............................................................................................. 28
3.2 Saran.................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 31




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Globalisasi disegala aktifitas pekerjaan insan menuntut tersedianya prasarana dan sarana kerja yang sanggup menjamin lancarnya suatu pekerjaan, tanpa mengabaikan kenyamanan, kesehatan dan keamanan bekerja. Untuk itu faktor keselamatan menjadi penting. Kenyamanan, kesehatan dan keamanan dalam bekerja banyak dituntut pada pekerjaan dengan tingkat ancaman tinggi semisal pada pekerjaan penambangan bawah tanah, pekerjaan bawah air, pekerjaan diketinggian dan pemadam kebakaran. Jaminan Keselamatan kerja menjadi penting untuk melengkapi dukungan terhadap pekerja, antara lain dengan adanya banyak sekali macam asuransi menjadi pelengkapnya. Keselamatan kerja menjadi hak semua pekerja.
Pada pekerja dengan pekerjaan tingkat ancaman tinggi keselamatan kerja sangat mutlak untuk melindungi dirinya dan juga asset produksi. Keselamatan kerja akan ada bila si pekerja melengkapi aktifitasnya dengan pengetahuan dan keterampilan ihwal keselamatan kerja. Pengetahuan dan keterampilan keselamatan kerja itu sendiri terbagi atas banyak sekali macam kegiatan kerja yang diadaptasi dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan. Bagi pekerja yang bekerja dengan tingkat ancaman tinggi misalkan bekerja pada ruang terbatas dan di ketinggian, pemahaman ihwal keselamatan kerja menjadi lebih penting. Dalam hal tersebut keterampilan untuk bekerja di ruang terbatas dan di ketinggian akan menjadi sangat khusus.
Melihat hal tersebut, pekerja perlu memahami pentingnya keselamatan kerja bekerja di ruang terbatas dan di ketinggian, dengan pengetahuan dan keterampilan teknik keselamatan kerja yang diadaptasi dengan bidang kerjanya. Untuk itu maka disusunlah makalah ini untuk menawarkan pengetahuan dan keterampilan bekerja di ruang terbatas dan di ketinggian biar para pekerja sanggup mencegah serta meminimalisir akan terjadinya kecelakaan ketika bekerja di ruang terbatas dan di ketinggian. 


1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas sanggup dirumuskan duduk perkara sebagai berikut.
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan bekerja di ruangan terbatas?
1.2.2        Apa ancaman yang ditemui kalau bekerja di ruangan terbatas?
1.2.3        Apa saja jenis pekerjaan di ruang terbatas?
1.2.4        Bagaimana ijin bekerja pada ruang terbatas?
1.2.5        Apa saja persyaratan kesehatang yang diharapkan ketika bekerja di ruang terbatas?
1.2.6        Apa saja persyaratan wajib sebelum memasuki ruang terbatas?
1.2.7        Apa pengertian bekerja pada ketinggian?
1.2.8        Apa saja ancaman bekerja pada ketinggian?
1.2.9        Apa saja jenis pekerjaan pada ketinggian?
1.2.10    Bagaimana ijin bekerja pada ketinggian?
1.2.11    Apa saja yang perlu direncanakan ketika bekerja pada ketinggian?

1.3  Tujuan
Sejalan dengan rumusan duduk perkara di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk menawarkan infromasi kepada pembaca tentang.
1.3.1        Pengertian Bekerja pada Ruang Terbatas
1.3.2        Bahaya Bekerja di Ruang Terbatas
1.3.3        Jenis Pekerjaan di Ruang Terbatas
1.3.4        Ijin Bekerja pada Ruang Terbatas
1.3.5        Persyaratan Kesehatan Bekerja di Ruang Terbatas
1.3.6        Persyaratan Wajib Sebelum Memasuki Ruang Terbatas
1.3.7        Pengertian Bekerja pada Ketinggian
1.3.8        Bahaya Bekerja pada Ketinggian
1.3.9        Jenis Pekerjaan pada Ketinggian
1.3.10    Ijin Bekerja pada Ketinggian
1.3.11    Perencanaan Bekerja di Ketinggian


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Bekerja pada Ruang Terbatas
2.1.1        Pengertian Bekerja pada Ruang Terbatas
Pengertian bekerja pada ruang terbatas (confined space) yaitu setiap orang yang bekerja pada ruang yang :
·         Cukup luas dan mempunyai konfigurasi sedimikian rupa sehingga pekerja sanggup masuk dan melaksanakan pekerjaan di dalamnya.
·         Mempunyai jalan masuk keluar masuk yang terbatas menyerupai pada tank, kapal, silo, tempat penyimpanan, lemari besi atau ruang lain yang mungkin mempunyai jalan masuk terbatas.
·         Tidak dirancang untuk tempat kerja secara berkelanjutan atau terus menerus di dalamnya.
Dari pendekatan definisi diatas sanggup disimpulkan ruang terbatas yaitu sebagai suatu tempat yang mempunyai konfigurasi yang cukup luas untuk seseorang melaksanakan aktifitas/melakukan pekerjaan didalamnya tetapi dengan ruang jalan masuk keluar masuk yang terbatas dalam konteks "baik pekerja, peralatan dan perlengkapannya yang masuk-keluar terbatas" dan didesain untuk pekerjaan yang sifatnya "temporary" atau sementara.

Jenis-Jenis Ruang Terbatas : Tangki, Vessels/Bejana, Manholes, Sewer, Silo, Hood/Hoppers, Bungker, Pipa, Selokan/ Parit, Terowongan, saluran pipa, Lubang dengan kedalaman min 1,5 m.
Penggolongan Kategori di Ruang Terbatas  dibagi menjadi 3 Kategori diantaranya yaitu :

2.1.2        Bahaya Bekerja di Ruang Terbatas
Bahaya yang sanggup timbul di ruang terbatas yaitu sebagai berikut:
a)      Kekurangan dan kelebihan Oksigen (<19 % atau >23 %)
Kadar O2 yang kondusif di udara yaitu 19,5%, kalau kadar O2 dibawah 19,5% maka pekerjaan di ruang terbatas wajib memakai alat bantu pernapasan/SCBA (self cointained breathing apparatus). Penurunan kadar O2 disebabkan oleh beberapa aktifitas menyerupai pengelasan, pembersihan dengan solvent, reaksi oksidasi, atau acara kuman menyerupai fermentasi. Penurunan kadar oksigen juga bisa disebabkan lantaran terganti/terdorong oleh gas lain menyerupai karbondioksida dan nitrogen. Jika hal ini terjadi maka ancaman janjkematian sanggup terjadi pada
pekerja. Selain itu, kadar O2 yang hiperbola (>23%) sanggup mengakibatkan kebakaran dan peledakan, jangan pernah memakai O2 murni untuk disuplai ke dalam ruang terbatas sebagai ventilasi.
b)      Bahan gampang terbakar dan meledak
Dua unsur yang mengakibatkan proses pembakaran yaitu Oksigen dan materi bakar (gas gampang terbakar, debu, dll). Jika terdapat sumber panas atau pemantik maka tiga unsur api akan terbentuk dan pembakaran akan terjadi. Pembakaran yang terjadi di ruang terbatas akan sangat berbahaya dikarenakan kadar Oksigen akan cepat turun, panas akan meningkat, dan gas beracun
akan terbentuk.
c)      Bahan beracun (gas, fumes, uap)
Gas beracun sanggup terbentuk dari pembersihan material sisa menyerupai pembersihan lumpur yang sanggup menghasilkan hydrogen sulfida. Pekerjaan di ruang terbatas juga sanggup menghasilkan gas beracun menyerupai pengelasan, pengecatan, pembersihan, dan lain sebagainya.
d)     Energi mekanis, energi listrik, atau panas yang tidak terkendali 
e)      Potensi ancaman fisik
ü  Panas
Temperatur yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin) sanggup mengganggu bagi para pekerja.
ü  Kebisingan
Suara bising sangat mengganggu para pekerja, dikarenakan struktur ruang terbatas sanggup membat bunyi menjadi menggema. Selain sanggup membahanyakan pendengaran, bunyi bising juga sanggup mengganggu komunikasi pekerja dengan pekerja lain yang ada di luar.
ü  Terliputi/terperangkap (Engulfment)
Keadaan dimana seseorang terperangkap oleh cairan atau substansi padat yang sanggup terhirup sehingga sanggup mengakibatkan gangguan berupa penyumbatan sistem pernapasan sehingga sanggup menimbulkan janjkematian melalui strangulasi, konstriksi atau penekanan.
ü  Lantai kerja yang licin
Lantai kerja yang licin sanggup meningkatkan kemungkinan terjadinya cidera atau kematian, dan memungkinkan pekerja terkena sengatan listrik dari peralatan yang digunakan.
ü  Material jatuh
Pekerja di ruang terbatas sangat rentan terkena jatuhan material, ini sangat mungkin terjadi kalau barang-barang pada jalur masuk tidak dikelola kerapihannya.
f)       Potensi Bahaya Kimia
ü  H2S (Hydrogen Sufida)
Merupakan gas beracun yang tidak berwarna, sifatnya gampang terbakar, dan bersifat korosif sehingga mengakibatkan karat pada peralatan logam. Selain itu yang perlu diwaspadai adalahgas ini sering bersembunyi di karat-karat tersebut dan di balik cat-cat yang menggelembung pada dinding besi atau logam.
ü  CH4 (methane)
Pada suhu ruangan dan tekanan standar gas metan tidak berwarna dan tidak berbau, namun gas ini sangat rentan sekali terbakar. Pada konsentrasi 5%-15% di udara gas metan sangat gampang terbakar.
ü  CO (carbon Monoksida)
ü  Gas CO tidak berbau, tidak berwarna, masa jenisnya lebih ringan dari masa jenis udara, sangat beracun dan sangat gampang terbakar. Gas ini dihasilkan dari pembakaran tidak tepat pada material yang mengandung karbon.
Pengaruh gas karbon monoksida terhadap kesehatan
2.1.3        Jenis Pekerjaan di Ruang Terbatas
Beberapa jenis pekerjaan yang mengakibatkan orang memasuki ruang terbatas, antara lain:
a)    Pemeliharaan (pencucian atau pembersihan)
b)   Pemeriksaan
c)    Pengelasan, pelapisan dan pelindungan karat
d)   Perbaikan
e)    Penyelamatan dan menawarkan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan di ruang terbatas; dan
f)    Jenis pekerjaan lainnya yang mengharuskan masuk ke dalam ruang terbatas.

2.1.4        Ijin Bekerja pada Ruang Terbatas
Ijin Ruang terbatas dibagi menjadi 2, yaitu:
1)        Ruang terbatas dengan ijin khusus berarti ruang terbatas yang mempunyai satu atau lebih, ciri-ciri yaitu sebagai berikut :
·         mengandung gas atmosfer udara yang berbahaya
·         mengandung material yang berpotensi memerangkap pekerja di dalamnya
·         mempunyai konfigurasi atau struktur sedemikian rupa sehingga petugas utama sanggup terperangkap atau mengalami asfiksia akhir dinding yang melengkung ke dalam atau lantai yang curam dan mengarah ke lorong atau ruangan yang lebih kecil, atau
·         mengandung ancaman lainnya.
2)        Ruang terbatas tanpa ijin khusus berarti ruang terbatas yang tidak berpotensi mengandung gas atmosfer yang berbahaya atau mengandung ancaman lainnya yang sanggup mengakibatkan janjkematian atau ancaman terhadap fisik lainya.
Perlunya Ijin Kerja ketika melaksanakan Pekerjaan di Ruang Terbatas biar :
·         Memberikan informasi dan instruksi tertulis mengenai keadaan berbahaya yang harus dihindari, petugas dan peralatan pelindung keselamatan yang diperlukan.
·         Menjamin adanya persiapan yang benar sebelum pekerjaan dimulai.
·         Membatasi jenis pekerjaan dimana pembatasan tersebut akan menghipnotis kebutuhan untuk menjamin Keselamatan dan Kesehatan.
·         Memberikan pemberitahuan yang cukup kepada semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.
·         Membagi  tanggung jawab  dengan  semua pihak menandatangani untuk memastikan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan pada pekerjaan tersebut telah disetujui.

2.1.5        Persyaratan Kesehatan Bekerja di Ruang Terbatas
Bekerja di ruang terbatas sanggup menawarkan tekanan fisik dan psikologis lantaran kualitas penerangan yang jelek dan ruangan yang sempit. Pengurus juga wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan dinyatakan oleh dokter. Pemeriksa kesehatan kerja diharapkan untuk memastikan pekerja tidak mempunyai riwayat:
ü  Sakit sawan atau epilepsy
ü  Penyakit jantung atau gangguan jantung
ü  Asma, bronchitis atau sesak napas apabila kelelahan
ü  Gangguan pendengaran
ü  Sakit kepala menyerupai migrain ataupun vertigo yang sanggup mengakibatkan disorientasi
ü  Klaustropobia, atau gangguan mental lainnya
ü  Gangguan atau sakit tulang belakang
ü  Kecacatan penglihatan permanen
ü  Penyakit lainnya yang sanggup membahayakan keselamatan selama bekerja di ruang terbatas

2.1.6        Persyaratan Wajib Sebelum Memasuki Ruang Terbatas
1)      Pengukuran kadar gas
Gunakan peralatan yang diharapkan untuk menilik kadar oksigen, materi gampang terbakar dan tingkat toksisitas dalam ruang terbatas. Pengujian dilakukan sebelum ruang dibuka oleh pihak yang berwenang dari pintu masuk ruangan terbatas dengan alat uji yang diperlukan. Setelah ruang tersebut dibuka, penyelidikan dilakukan dari atas kebawah untuk menguji keseluruhan ruang. gas yang gampang terbakar menyerupai propane dan butane kebanyakan
mempunyai masa jenis yang berat sehingga cenderung akan turun, sedangkan gas-gas ringan menyerupai metana akan naik ke atas. Pastikan untuk Uji kadar oksigen dan kadar racun. informasikan kepada atasan anda kalau pada tes yang dilakukan ditemukan ancaman potensial yang tidak atau belum mendapat dukungan yang memadai. Lanjutkan pengujian kualitas udara secara terus menerus selama pekerjaan dilaksanakan untuk mengetahui timbulnya gas berbahaya atau pengurangan dan peningkatan kadar oksigen.
2)      Ijin kerja di ruang terbatas
Sebagian besar pekerjaan di ruang terbatas memerlukan izin oleh pihak atau administrasi sebuah instansi, forum ataupun perusahaan sebelum pekerja diperbolehkan untuk masuk. Pastikan atasan Anda atau unit anda telah memperoleh izin kerja di ruang terbatas yang diperlukan. lantaran izin tersebut harus ditampilkan secara terperinci di pintu masuk atau didalam ruang selama terdapat pekerjaan disana.
3)      Pengendalian Energi Berbahaya (Isolasi)
Lakukan isolasi terhadap energi yang sanggup membahayakan pekerja di dalam ruang terbatas, contohnya uap bertekanan, air, gas atau fatwa listrik yang masuk kedalam ruang. Gunakan kunci dan tag untuk menandai dan mencegah kecelakaan yang bisa disebabkan oleh peralatan yang ada. Sistem LOTO (Lock Out/ Tag Out) yaitu sistem yang baik untuk itu. Gunakan perlengkapan tahan api, pelidung dari ledakan ataupun pagar pengaman kalau teridentifikasi terdapat ancaman dari bahan-bahan yang gampang meledak.
4)      Pembersihan dan ventilasi
Bersihkan semua air yang tidak diinginkan, atmosfer, sedimen, atau materi lainnya sebelum masuk ruangan, lantaran hal tersebut bisa menjadi ancaman bagi keselamatan selama pekerjaan berlangsung. Dan yang terakhir, gunakan peralatan ventilasi untuk mempertahankan tingkat kadar oksigen yang dianjurkan yaitu antara 19,5 dan 23,5%. Gas beracun dan uap, kalau ada, juga harus dijaga dalam tingkat yang sanggup diterima. Apabila ventilasi atau pembilasan tidak menghilangkan semua ancaman di atmosfer dalam ruangan, perlindung pernafasan yang sesuai sangatlah wajib digunakan sebelum dan ketika memulai pekerjaan. Gunakanlah SCBA untuk pekerja yang didalam ruang terbatas, dan pastikan tersedia SCBA cadangan.
Pelindung mata dan dukungan indera pendengaran juga mungkin diharapkan diadaptasi dengan ancaman yang ada.
5)      Standby worker/Tim Penyelamat (rescue)
Penggunaan Standby worker pada pekerjaan ruang terbatas cukup efektif, dengan menunjuk pekerja lain untuk tetap berada di luar ruang terbatas untuk memantau pekerjaan, dan untuk menyediakan penyelamatan bila diperlukan. Dia harus dilengkapi dengan peralatan pribadi yang dibutuhkan dan telah dilatih untuk melaksanakan pertolongan pertama dan CPR. Dia harus menjaga komunikasi yang konstan dengan orang yang bekerja di dalam ruang baik dengan radio atau telepon ataupun tali. Hampir 50% dari janjkematian di ruang terbatas terjadi justru pada ketika proses penyelamatan. Karena itu dalam izin kerja di ruang terbatas yang di terbitkan juga perlu di lampirkan mekanisme penyelamatan dan penyelamatan kalau terjadi kecelakaan di dalam ruang terbatas. Di dalamnya juga diterangkan mengenai siapa saja tim penyelamatan yang diperbolehkan untuk melaksanakan penyelamatan, dengan catatan bahwa tim penyelamatan tersebut telah terlatih untuk melaksanakan penyelamatan dan penyelamatan dan telah memahami mekanisme penyelamatan yang telah di buat.
2.2  Bekerja pada Ketinggian
2.2.1        Pengertian Bekerja pada Ketinggian
Pengertian bekerja di ketinggian yaitu setiap orang yang bekerja di ketinggian 2 meter dari tanah atau lebih dari 2 meter dan mempunyai potensi jatuh dan harus dilengkapi dengan arrestor (pelindung badan dengan memanfaatkan Lanyards ganda) atau harus dilindungi dengan pegangan atau jaring pengaman.
Menurut Asosiasi Ropes Access Indonesia (2009) bekerja pada ketinggian (work at height) yaitu bentuk kerja dengan mempunyai potensi ancaman jatuh (dan tentunya ada bahaya-bahaya lainnya).
Menurut Rope and Work Corporation yang dimaksud bekerja diketinggian yaitu pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi (high risk activity) yang memerlukan pengetahuan serta ketrampilan khusus untuk melaksanakan pekerjaan sebenarnya.
Bekerja pada ketinggian yaitu kegiatan kerja pada tempat atau titik kerja yang bila seorang bekerja ditempat tersebut, mempunyai potensi ancaman jatuh lantaran adanya perbedaan elevasi. Pengertian lainnya yaitu pekerjaan yang membutuhkan pergerakan tenaga kerja untuk bergerak secara vertikal naik, mau pun turun dari suatu platform. Dari pengertian di atas, batasan bekerja pada ketinggian yang dimaksud dalam kompetensi ini yaitu sebagai berikut:
a)      Ruang terbuka: dilakukan pada struktur buatan pada ruang terbuka menyerupai menara (tower), tiang, perancah (scaffolding), atau atap.
b)      Ruang terbatas: dilakukan pada struktur buatan pada ruang tertutup menyerupai sumur atau cerobong.
Menurut Management System (2010) bekerja pada ketinggian sanggup dikategorikan sebagai berikut:
a)      Bekerja di ketinggian 4 feet (1.24 meter) atau lebih dari atas lantai atau tanah. Contoh: Pekerjaan sipil (civil work), pekerjaan electrical atau pemasangan kabel, pemasangan panel-panel, pekerjaan bangunan (building atau structural work) menyerupai pemasangan atap, pembangunan jembatan. Pekerjaan tersebut sanggup dilaksanakan baik oleh karyawan sendiri ataupun oleh kontraktor.
b)      Bekerja pada ketinggian 6 feet (1.8) atau lebih pada pinggiran atau sisi yang terbuka. Contoh: Bekerja pada atap datar (flat roof), puncak tangki timbun.
c)      Bekerja di ketinggian 10 feet (3.1 meter) atau lebih pada pinggiran atau sisi yang terbuka dengan memakai peralatan mekanis.
Menurut The BP Golden Rules of Safety (2006) yang di maksud bekerja di ketinggian yaitu bekerja di ketinggian 2 meter (6 kaki) atau lebih diatas permukaaan tanah dilarang dilakukan kecuali:
a)      Dengan mempergunakan anjungan yang kokoh dengan pengaman atau pegangan tangan yang disetujui oleh personil yang berwenang atau
b)      Dengan mempergunakan “fall arrest equipment” (peralatan penangkap barang–barang yang jatuh) yang bisa menopang beban bergerak sekurangkurangnya seberat 2275 kg (5000 lbs) per orang dan memiliki:
1)      Jangkar yang diikatkan dengan benar, lebih baik disebelah atas
2)      Full Body Harness” dengan pengait sentak mengunci otomatis berkancing ganda pada setiap sambungan
3)      Tali serat sintetis
4)      Peredam gocangan
c)      Fall arrest equipment” membatasi jatuh bebas dari ketinggian 2 meter (6 kaki) atau kurang
d)     Pemeriksaan visual “fall arrest equipment” dan system sudah dilakukan dan setiap peralatan yang rusak atau yang dinonaktifkan sudah disingkirkan
e)      Orang yang bersangkutan bisa melaksanakan pekerjaan
Bekerja dalam posisi di ketinggian memang memerlukan penanganan khusus yang dikarenakan kondisinya yang tidak lazim. Pada dasarnya ada 4 terpenting yang harus diperhatikan dalam menangani pekerjaan pada posisi di ketinggian yaitu: pelaku atau pekerja, kondisi lokasi (titik atau lokasi pekerjaan), teknik yang digunakan, dan peralatan.
Bekerja pada ketinggian menuntut para pekerja untuk mengetahui bagaimana pekerja sanggup melaksanakan pekerjaannya pada ketinggian dalam keadaan
safety, menguasai lokasi pekerjaan terutama mengenai tingkat risiko yang sanggup ditimbulkannya, mempunyai teknik yang sanggup mengantisipasi risiko bekerja di ketinggian serta didukung peralatan safety yang diadaptasi dengan kebutuhan atau spesifikasi pekerjaan yang akan dilakukan. Namum demikian, hal yang terpenting dalam melaksanakan suatu pekerjaan yaitu kualitas dari hasil pekerjaan yang dilaksanakan.

2.2.2        Bahaya Bekerja pada Ketinggian
Beberapa hal yang sering menimbulkan kecelakaan terjatuh dari ketinggian adalah:
ü  Kurangnya perencanaan dan evaluasi risiko
ü  Kurangnya kualitas pengawasan
ü  Pelatihan yang kurang (training bekerja di atas ketinggian)
ü  Pemilihan peralatan pendukung yang tidak sesuai
ü  Pemilihan alat pelindung diri yang tidak tepat
ü  Tetap melaksanakan cara yang biasa dilakukan, walaupun ada motede yang lebih aman
ü  Kesalahan penggunaan alat pelindung

Bahaya bekerja di ketinggian yaitu jatuh yang sanggup menimbulkan kecelakaan fatal. Katagori jatuh yang dimaksud yaitu sebagai berikut :
ü  Jatuh di di permukaan (contoh  terpeleset)
ü  Jatuh terbentur suatu Objek
ü  Jatuh dari kendaraan / peralatan
ü  Jatuh dari tangga
ü  Jatuh dari level yang berbeda
ü  Jatuh dari objek yang terbuka/terperosok
Jatuh dari ketinggian yaitu risiko yang sangat besar sanggup terjadi pada pekerja yang melaksanakan kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi. Biasanya tragedi ini akan mengakibat kecelakaan yang fatal. Sementara risiko tersebut kurang dihayati oleh para pelaku konstruksi, dengan sering kali mengabaikan penggunaan peralatan pelindung (personal fall arrest system) yang bekerjsama telah diatur dalam pedoman Sistem Manajemen K3 konstruksi.

2.2.3        Jenis Pekerjaan pada Ketinggian
Berikut ada beberapa contoh jenis pekerjaan yang memerlukan perhatian yang lebih, lantaran mempunyai risiko yang tinggi lantaran dilakukan pada:
·         Setiap struktur bangunan atau gedung yang sedang dibangun, diperbaiki, dibongkar, diperiksa, diuji dan dibersihkan.
·         Terdapat permukaan yang retak menyerupai struktur atap yang mulai keropos, lantai beton yang retak atau memperlihatkan tanda akan runtuh, struktur tiang yang keropos,dinding yang retak.
·         Pada permukaan yang tidak stabil menyerupai pada area yang berpotensi longsor
·         Menggunakan alat bantu menyerupai crane, elevated work place, forklift, scaffolding, dan tangga portabel.
·         Pada permukaan yang miring atau licin dimana pekerja sulit untuk melaksanakan keseimbangan menyerupai pada keramik dan lantai yang miring.
·         Bekerja pada area beda tinggi tanpa ada penghalang menyerupai tangga tanpa handrail
·         Dekat lubang atau parit yang sanggup mengakibatkan pekerja terperosok masuk ke dalam lubang tersebut.

2.2.4        Ijin Bekerja pada Ketinggian
Bekerja di atas ketinggian mempunyai risiko yang tinggi, oleh lantaran itu dalam melaksanakan pekerjaan ini sebagian perusahaan menetapkan ijin khusus. Ijin bekerja di atas ketinggian menjadi syarat yang harus dipenuhi oleh pemilik proses pekerjaan apabila pekerjaan tersebut dilakukan pada ketinggian lebih dari 4 (empat) meter. Namun, ada beberapa yang menerapkan semua pekerjaan di atas ketinggian harus mengajukan ijin, hal ini bertujuan untuk memastikan semua persyaratan terkait keselamatan pekerjaan dipenuhi.
Cara mengajukan ijin bekerja di atas ketinggian sanggup dilakukan dengan beberapa langkah berikut.
1)      Menentukan Peralatan apa yang akan digunakan
Jenis peralatan pelindung atau pencegah jatuh yang akan digunakan sanggup menghipnotis potensi ancaman yang ada, oleh lantaran itu sebelum melaksanakan pekerjaan di atas ketinggian sebaiknya memilih terlebih dahulu peralatan apa yang akan digunakan dan yang sesuai dengan pekerjaan. Peralatan-peralatan tersebut diantaranya : tangga portable, perancah (scaffolding), elevated work place, gondola, crane, forklift, dan lain-lain.\
2)      Membuat JSA terkait pekerjaan
Pembuatan JSA bertujuan sebagai pola pekerja ketika melaksanakan pekerjaan di atas ketinggian. JSA ini harus dibentuk oleh pengawas sebelum pekerjaan di ketinggian dilakukan dan setiap ada perubahan pada proses kerja yang sanggup menimbulkan risiko jatuh. Lakukan briefing kepada semua pekerja yang terlibat sebelum pekerjaan dilakukan. JSA harus selalu tersedia di area pekerjaan di atas ketinggian dilakukan, dan sanggup dilihat sewaktu-waktu kalau diperlukan.
3)      Melakukan Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan mempunyai kiprah yang cukup besar terhadap keselamatan pekerja ketika melaksanakan pekerjaan di atas ketinggian. Periksa kesehatan pekerja di klinik atau dokter perusahaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan kesiapan fisik pekerja dan mengantisipasi apabila ada pekerja yang mengidap penyakit-penyakit khusus yang membahakan untuk melaksanakan pekerjaan di ketinggian menyerupai epilepsi (ayan), vertigo, darah rendah, pobia ketinggian, dan lain-lain.
4)      Mengisi Form Ijin Bekerja di Ketinggian
Setelah semua langkah di atas dipenuhi, langkah selanjutnya yaitu mengisi form ijin bekerja di ketinggian, mintalah tanda tangan pada pihak yang ditunjuk perusahaan untuk melaksanakan penendatanganan. Simpan form yang telah ditandatangani sebagai bukti bahwa pekerjaan telah mendapat ijin.

2.2.5        Perencanaan Bekerja di Ketinggian
Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan pada pekerjaan di atas ketinggian yaitu kurangnya perencanaan yang baik dalam melaksanakan pekerjaan. Pekerjaan berisiko tinggi ini yang semestinya bisa direncanakan, lantaran beberapa alasan menjadi tidak terencana dan terkesan berjalan dadakan. Perencanaan pada pekerjaan di atas ketinggian bertujuan untuk memilih potensi ancaman yang ada pada pekerjaan tersebut, dan memilih kendali apa yang sesuai untuk meminimalkan risiko.
Dalam perencanaan kerja untuk bekerja diatas ketinggian, ada beberapa langkah yang sanggup dilakukan, yaitu:
a)      Identifikasi Bahaya
Untuk mengetahui ancaman apa saja yang ada pada pekerjaan di atas ketinggian yang akan dilakukan, perlu dilakukan investigasi yang meliputi:
1)    Pemeriksaan fisik: Periksa seluruh area dimana pekerjaan akan dilakukan, bawa check list dan catat semua kemungkinan yang sanggup menimbulkan pekerja mengalami kecelakaan.
ü  Permukaan kerja : Licin, ketidakstabilan, pecah, miring, beda tinggi, kemampuan menahan beban, terhalang, dan lain-lain
ü  Permukaan tanah : stabil atau potensi longsor, sanggup menahan scaffolding atau tangga
ü  Lubang atau parit : apakah membutuhkan pengaman untuk melindungi pekerja biar tidak terperosok
ü  Pelindung : handrail pada tangga, platform, toebar, 
ü  Akses keluar masuk : terhalang benda-benda, membahayakan ketika emergency, dan lain sebagainya
ü  Area kerja : Terlalu sempit atau tidak tertata sehingga membahayakan pekerja
2)      Prosedur : Apakah mekanisme yang terkait pekerjaan tersebut telah dipenuhi dan dipahami oleh semua pekerja. Apabila memerlukan ijin khusus, apakah sudah mendapat tanda tangan dari orang-orang yang berhak menandatangani.
3)      Kasus kecelakaan sebelumnya : cari tahu apakah pernah ada kecelakaan sebelumnya terkait pekerjaan yang sama menyerupai yang akan dikerjakan, kalau ada pelajari penyebabnya.

b)      Penilaian Risiko
Tahap ini menjelaskan ihwal seberapa besar risiko dari pekerjaan yang akan dilakukan, apabila pekerja terjatuh akan menimbulkan keparahan yang menyerupai apa, apakah luka ringan, patah tulang, atau meninggal.
Penilaian risiko ini bertujuan untuk memilih tingkat prioritas dalam melaksanakan tindakan perbaikan atau pencegahan. Potensi ancaman jatuh yang ditemukan pada proses identifikasi dilakukan evaluasi dengan memakai matrik risiko. 
Nilai risiko sanggup membantu dalam menentukan:
·         Apa yang akan terjadi kalau pekerja benar-benar mengalami jatuh, dan seberapa mungkin hal itu sanggup terjadi
·         Berapa tingkat keparahan dari risiko tersebut
·         Apakah ada tindakan pengendalian yang efektif
·         Apa tindakan yang akan diambil untuk mengendalikan risiko
·         Seberapa mendesak suatu tindakan pengendalian harus dilakukan
Penilaian risiko pada pekerjaan di ketinggian tidak berbeda dengan evaluasi risiko lainnya (HIRA/IBPR), namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan evaluasi ancaman jatuh, diantaranya:
ü  Desain dan layout area kerja, serta ketinggian pekerjaan
ü  Jumlah pekerjaan yang melaksanakan pekerjaan tersebut
ü  Seberapa bersahabat pekerja dengan area yang sanggup mengakibatkan jatuh dan potensi peralatan atau material terjatuh
ü  Seberapa sering alat bantu kerja tersebut dilakukan investigasi (seperti tangga portabel, scaffolding, dan lain-lain)
ü  Apakah pencahayaan tercukupi
ü  Kondisi cuaca menyerupai hujan, angin, panas
ü  Kesesuaian APD yang dipakai
ü  Pengalaman pekerja
ü  Ketersediaan mekanisme emergency
Semakin besar risiko yang teridentifikasi, maka pengendalian yang harus dilakukan harus bisa meminimalkan risiko yang ada. Oleh lantaran itu, dalam menilai risiko ini sangat tergantung pada orang yang menilai. Kesalahan dalam melaksanakan evaluasi akan sangat berdampak pada kesiapan pengendalian.

c)      Pengendalian Bahaya
Bahaya-bahaya signifikan yang teridentifikasi harus dikendalikan untuk melindungi pekerja dari kecelakaan. Untuk melaksanakan pengendalian terhadap risiko jatuh, sanggup dilakukan dengan beberapa cara berikut:
1.      Pengendalian dengan Eliminasi
Hirarki pengendalian ancaman menempatkan eliminasi di urutan pertama, ini menawarkan pengertian bahwa eliminasi masih merupakan pengendalian ancaman yang paling efektif. Menghilangkan (eliminasi) potensi jatuh pada pekerjaan di atas ketinggian, sanggup dilakukan dengan cara:
·         Membuat desain yang lebih aman
Menghilangkan ancaman jatuh dari ketinggian dengan menciptakan desain yang lebih kondusif dilakukan dengan menciptakan desain yang telah memperhitungkan aspek-aspek keselamatan, menyerupai menempatkan peralatan yang membutuhkan perawatan secara terpola pada posisi yang rendah sehingga tidak perlu naik untuk melaksanakan perawatan pada peralatan tersebut, menciptakan jalan masuk jalan (walkway) yang dilengkapi dengan pegangan tangan (handrail), menciptakan tembok pembatas.
Masih banyak lagi bentuk eliminasi ancaman jatuh dengan menciptakan desain yang lebih aman, intinya tujuan dari metode ini untuk mencari alternatif biar pekerjaan tidak harus dilakukan di ketinggian. Sebagai contoh, menempatkan blower AC di posisi yang rendah, sehingga pada ketika perbaikan tidak perlu harus naik.
·         Menggunakan alat bantu
Penggunaan alat bantu juga menjadi salah satu pengendalian ancaman jatuh secara eliminasi. Dengan memakai alat bantu yang sesuai, maka pekerjaan yang seharusnya dilakukan di atas sanggup dilakukan dari bawah. Beberapa contoh penggunaan alat bantu : Penggunaan tongkat (galah) untuk mengecat pada dinding yang tinggi, penggunaan ekstensi pada pekerjaan pembersihan jendela.
Penggunaan alat bantu menyerupai itu sanggup menghilangkan kebutuhan untuk melaksanakan pekerjaan di atas.

·         Metode alternatif 
Beberapa contoh metode alternatif untuk menghindari pekerjaan di atas ketinggian diantaranya:
·         Melakukan pengecatan genting sebelum dipasang, hal ini sanggup menghilangkan pekerjaan pengecatan di atas ketinggian.
·         Melakukan perbaikan blower AC di lantai
·         Melakukan perakitan bangunan di bawah, sesudah itu gres didirikan.
Itulah beberapa bentuk eliminasi ancaman pada pekerjaan di atas ketinggian, Perlu dipahami bahwa jangan pernah dipaksakan untuk melaksanakan pengendalian secara eliminasi. Karena tidak semua ancaman sanggup dihilangkan, kalau hal ini terjadi maka lakukanlah pengendalian dengan memakai urutan pengendalian berikutnya yaitu isolasi.

2.      Pengendalian dengan Isolasi
Pengendalian Isolasi dipilih apabila ancaman yang ada pada pekerjaan di atas ketinggian tidak memungkinkan untuk dikontrol dengan pengendalian secara eliminasi. Pengendalian ancaman bekerja di atas ketinggian secara isolasi juga sanggup berfungsi melindungi pekerja secara kelompok (group control). Isolasi ancaman jatuh pada pekerjaan di atas ketinggian diantaranya:


ü  Scaffolding
Perancah (scaffolding) yaitu suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga insan dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya. Perancah dibentuk apabila pekerjaan bangunan gedung sudah mencapai ketinggian 2 meter dan tidak sanggup dijangkau oleh pekerja. Biasanya perancah berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau tabung logam, meskipun juga sanggup memakai bahan-bahan lain. Perancah yaitu work platform sementara.
Penggunaan perancah (Scaffolding) merupakan cara yang paling umum digunakan untuk menyediakan platform yang kondusif bagi suatu pekerjaan yang dilakukan di ketinggian. Selain itu, perancah juga sangat banyak jenisnya. Semua perancah harus dirakit, dibongkar dan diperiksa oleh pekerja yang telah kompeten yang mempunyai sertifikasi scafolder. 

Contoh Perancah (Scaffolding)
Perancah sekurang-kurangnya harus memiliki:
·         Platform (lantai kerja) yang stabil dan cukup untuk melaksanakan suatu pekerjaan
·         Akses yang kondusif dan kokoh
·         Ketinggian platform yang paling atas dilarang lebih dari tiga kali ukuran pecahan dasar scaffolding
ü  Pagar pelindung (edge protection)
Pagar pelindung berfungsi untuk mencegah pekerja dan barang/peralatan terjatuh. Pagar pengaman ini harus dipasang pada area dimana adanya potensi jatuh baik pekerja maupun material.
Contoh penggunaan Pagar Pengaman

ü  Akses mekanis (mechanical access plant)
Akses mekanis merupakan peralatan mekanis/digerakkan dengan mesin yang digunakan sebagai sarana untuk pekerjaan di atas ketinggian. Akses mekanis ini sanggup berupa:
·     Mobile elevating work platforms 
·     Forklift yang dilengkapi lantai kerja (platform)
·     Vehicle extension arm
·     Crane lift platforms
Beberapa contoh Akses Mekanis untuk Bekerja di atas ketinggian





ü  Rope Acces
Rope Access yaitu sebagaimana namanya, metode jalan masuk memakai tali dan memanjat teknik untuk menjangkau daerah-daerah sulit. Akses tali memungkinkan untuk kinerja banyak sekali pekerjaan pada ketinggian tinggi dan keras lainnya untuk menjangkau daerah-daerah tanpa perancah atau alat berat. Akses tali berkembang dari teknik yang digunakan dalam panjat tebing dan mengarah untuk menjadi alat yang sangat kondusif dan biaya industri efektif.
3.      Pengendalian dengan meminimalkan tingkat keparahan
Pengendalian dengan meminimalkan tingkat keparahan dilakukan apabila pengendalian dengan eliminasi dan isolasi tidak memungkinkan dilakukan.  Meminimalkan keparahan akhir ancaman jatuh sanggup dilakukan dengan beberapa cara diantaranya:
ü  Harness System
Harness merupakan pengendalian yang sangat gampang diterapkan, harness harus digunakan selama pekerjaan di atas ketinggian berlangsung. Ini bertujuan untuk mengantisipasi kegagalan pada pengendalian lainnya, sehingga risiko jatuh masih ada.





Body harness

ü  Jaring (net)
Jaring ini terbuat dari materi sintetik yang berpengaruh sehingga bisa menahan beban apabila pekerja jatuh atau material dan peralatan kerja. Walaupun jaring ini sangat kuat, namun perawatan harus tetap dijaga untuk mempertahankan kualitas jaring.
Penggunaan yang tidak sesuai peruntukan, kebakar atau panas, penempatan yang tidak sesuai tawaran pabrik pembuat sanggup menimbulkan jaring sanggup gampang rudak dan putus.

Penggunaan Safety net / jarring
ü  Soft Landing System (SLS)
Penggunaan media yang lunak menyerupai matras sanggup mengurangi keparahan pada pekerja yang terjatuh dari ketinggian. Media ini akan mengabsorbsi energi dari pekerja yang jatuh,sehingga meminimalkan cedera. Hal yang perlu diingat bahwa SLS tidak untuk mencegah pekerja jatuh, namun hanya berfungsi untuk mengurangi tingkat keparahan saja.
contoh penggunaan soft landing system

Lakukan pengendalian yang mungkin dilakukan, apakah pekerjaan tersebut sanggup dilakukan dari bawah dengan memakai alat tertentu sehingga tidak perlu naik ke atas, apakah konstruksinya bisa dilakukan di bawah dan kemudian diangkat keatas, adakah alat bantu yang sanggup digunakan (seperti scafolding atau platform, tangga portable), bisakah tingkat keparahannya diturunkan (jika memakai fall arrest, harness, net, atau air bag).

d)     Monitoring
Pendekatan yang telah dilakukan harus dipastikan keefektifannya sepanjang pekerjaan tersebut berlangsung untuk menjamin tidak adanya sedikitpun kelalaian atau penyimpangan yang sanggup menimbulkan kontrol/pengendalian tidak berjalan dengan baik. Oleh lantaran itu perlu dilakukan pemeriksaan/inspeksi secara berkala, sosialisasi pada pekerja, dan pengawasan.
e)      Dokumentasi
Semua berkas perencanaan menyerupai HIRA/IBPR, Ijin kerja, bukti komunikasi dan pengendalian yang telah dilakukan harus tersimpan dengan rapi. Hal ini bertujuan untuk pengendalian dokumen, selain itu ini sangat diharapkan apabila ada investigasi kecelakaan.



BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Pada pecahan II telah dipaparkan ihwal (1) Pengertian Bekerja pada Ruang Terbatas, (2) Bahaya Bekerja di Ruang Terbatas, (3) Jenis Pekerjaan di Ruang Terbatas, (4) Ijin Bekerja pada Ruang Terbatas, (5) Persyaratan Kesehatan Bekerja di Ruang Terbatas, (6) Pesyaratan Wajib Sebelum Memasuki Ruang Terbatas, (7) Pengertian Bekerja pada Ketinggian, (8) Bahaya Bekerja pada Ketinggian, (9) Jenis Pekerjaan pada Ketinggian, (10) Ijin Bekerja pada Ketinggian, dan (11) Perencanaan Bekerja di Ketinggian. Berdasarkan pembahasan tersebut didapatkan simpulan sebagai berikut.
1.      ruang terbatas yaitu sebagai suatu tempat yang mempunyai konfigurasi yang cukup luas untuk seseorang melaksanakan aktifitas/melakukan pekerjaan didalamnya tetapi dengan ruang jalan masuk keluar masuk yang terbatas dalam konteks "baik pekerja, peralatan dan perlengkapannya yang masuk-keluar terbatas" dan didesain untuk pekerjaan yang sifatnya "temporary" atau sementara.
2.      Bahaya yang sanggup timbul di ruang terbatas yaitu kekurangan dan kelebihan oksigen, materi gampang terbakar dan meledak, materi beracun, energi mekanis, energy listrik, atau panas yang tidak terkendali, potensi ancaman fisik, potensi ancaman kimia.
3.      Jenis pekerjaan di ruang terbatas antara lain pemeliharaan, pemeriksaan, pengelasan, pelapisan, dan pelindung karat, perbaikan, penyelamatan dan menawarkan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan di ruang terbatas.
4.      Ijin ruang terbatas dibagi menjadi 2, yaitu ruang terbatas dengan ijin khusus dan ruang terbatas tanpa ijin khusus. Perlunya ijin kerja di rungan terbatas yaitu menawarkan informasi dan instruksi tertulis mengenai keadaan berbahaya yang harus dihindari, menjamin adanya persiapan yang benar sebelum melaksanakan pekerjaan, membatasi jenis pekerjaan, memberi pemberitahuan yang cukup, dan membagi tanggung jawab.
5.      Wajib dipastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan dinyatakan oleh dokter.
6.      Pesyaratan wajib yang harus dipenuhi sebelum memasuki ruang terbatas yaitu pengukuran kadar gas, ijin kerja di ruang terbatas, pengendalian energi berbahaya, pembersihan dan ventilasi, tim penyelamat.
7.      Bekerja pada ketinggian yaitu kegiatan kerja pada tempat atau titik kerja yang bila seorang bekerja ditempat tersebut, mempunyai potensi ancaman jatuh lantaran adanya perbedaan elevasi.
8.      Jatuh dari ketinggian yaitu risiko yang sangat besar sanggup terjadi pada pekerja yang melaksanakan kegiatan konstruksi pada elevasi tinggi. Biasanya tragedi ini akan mengakibat kecelakaan yang fatal. Sementara risiko tersebut kurang dihayati oleh para pelaku konstruksi.
9.       Jenis pekerjaan pada ketinggian yaitu pekerjaan yang dilakukan di setiap struktur bangunan atau gedung yang sedang dibangun, diperbaiki, dibongkar, diperiksa, diuji dan dibersihkan dan bekerja pada area beda tinggi tanpa ada penghalang menyerupai tangga tanpa handrail dan sebagainya.
10.  Langkah mengajukan ijin bekerja pada ketinggian yaitu memilih peralatan apa yang akan digunakan, menciptakan JSA terkait pekerjaan, melaksanakan investigasi kesehatan, dan mengisi form ijin bekerja di ketinggian.
11.  Perencanaan bekerja di ketinggian antara lain identifikasi bahaya, evaluasi resiko, pengendalian bahaya, monitoring, dan dokumentasi.
3.2  Saran
Berdasarkan simpulan di atas, ada sejumlah saran yang perlu disampaikan sebagai berikut.
1.    Pembaca
Bagi pembaca perlu diketahui dan dipahami ihwal pengertian bekerja di ruang terbatas dan bekerja pada ketinggian. Begitu juga jenis pekerjaan, ancaman yang sanggup ditemui ketika bekerja pada ruang terbatas dan pada ketinggian. Hal-hal tersebut sanggup membantu pembaca kalau bekerja di lapangan. Dengan memahami hal-hal tersebut maka pembaca akan mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan ketika bekerja di ruang terbatas dan bekerja di ketinggian.


DAFTAR RUJUKAN

Hutagaol, Armein. 2016. Prosedur Bekerja di Ketinggian, (Online), (http://mediak3.com/prosedur-bekerja-di-ketinggian/), diakses 09 April 2016.
Satya K., Riki. 2015. Pencegahan Kecelakaan dalam Bekerja di Ketinggian, (Online), (http://linkedin.com/pulse/pencegahan-kecelakaan-dalam-bekerja-di-ketinggian-riki-satya-komara/), diakses 09 April 2016.
Wahyuni, Ika. 2010. Sistem Pengendalian Bahaya Bekerja Pada Ketinggian Dalam Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Di Pt. Gunanusa Utama Fabricators Serang Banten, (Online), (https://core.ac.uk/download/pdf/12350361.pdf), diakses 01 April 2016.
Setiawan, Putra, Darmawan. 2015. Bekerja di Ketinggian, (Online), (https://www.makalahmanajemen.com//search?q=eliminasi-bahaya-bekerja-diatas-ketinggian), diakses 09 April 2016.
Setiawan, Putra, Darmawan. 2015. Bekerja di Ketinggian, (Online), (https://www.makalahmanajemen.com//search?q=eliminasi-bahaya-bekerja-diatas-ketinggian), diakses 09 April 2016.
Kurniawan, Andry. 2014. Bekerja Di Ruang Terbatas/ Working at Confined Space, (Online), (https://www.makalahmanajemen.com//search?q=eliminasi-bahaya-bekerja-diatas-ketinggian), diakses 28 Maret 2016.
Setiawan, Putra, Darmawan. 2014. Pedoman Kerja di Ruang Terbatas (Confined Space), (Online), (http://www.darmawansaputra.com/search/label/Confined%20Space?&max-results=6), diakses 28 Maret 2016.


Buat lebih berguna, kongsi:
close